
Peristiwa Isra Mikraj merupakan salah satu mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW yang memiliki makna mendalam bagi kehidupan umat Islam. Selain meneguhkan aspek spiritual melalui perintah salat, Isra Mikraj juga menyimpan pesan teologis yang relevan dengan persoalan kemanusiaan kontemporer, termasuk krisis lingkungan. Dalam perspektif ekoteologi Islam, Isra Mikraj dapat dipahami sebagai pengingat akan hubungan harmonis antara Allah SWT, manusia, dan alam semesta.
Isra Mikraj diawali dengan perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, sebagaimana difirmankan Allah SWT:
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya…”
(QS. Al-Isra’: 1)
Ayat ini menegaskan bahwa Masjidil Aqsa dan lingkungan sekitarnya adalah wilayah yang diberkahi. Keberkahan tersebut tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga ekologis, mencakup kesuburan tanah, keseimbangan alam, dan keberlanjutan kehidupan. Hal ini menunjukkan bahwa dalam Islam, kesucian tempat ibadah tidak dapat dipisahkan dari kelestarian lingkungan di sekitarnya.
Dalam perjalanan Mikraj, Rasulullah SAW menyaksikan keteraturan lapisan langit dan tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Fenomena ini selaras dengan firman Allah:
“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi dan pada pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”
(QS. Ali ‘Imran: 190)
Ayat tersebut mengandung pesan bahwa alam semesta diciptakan dengan keseimbangan dan keteraturan. Oleh karena itu, manusia sebagai makhluk berakal dituntut untuk menjaga keseimbangan tersebut, bukan merusaknya. Dalam ekoteologi Islam, alam bukan sekadar objek eksploitasi, melainkan ayat-ayat kauniyah yang mencerminkan kebesaran Allah SWT.
Islam menempatkan manusia sebagai khalifah di bumi, sebagaimana firman Allah SWT:
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.”
(QS. Al-Baqarah: 30)
Sebagai khalifah, manusia memiliki amanah untuk memelihara bumi dan seluruh isinya. Peristiwa Isra Mikraj mengajarkan bahwa peningkatan spiritual tidak boleh terlepas dari tanggung jawab sosial dan ekologis. Ibadah salat yang diperintahkan dalam Isra Mikraj sejatinya membentuk pribadi yang disiplin, bersih, dan peduli terhadap lingkungan.
Rasulullah SAW juga secara tegas melarang tindakan yang merusak alam. Dalam sebuah hadis beliau bersabda:
“Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau menabur benih, lalu darinya dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, melainkan itu menjadi sedekah baginya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa menjaga dan melestarikan lingkungan merupakan bagian dari amal saleh. Bahkan, dalam kondisi kiamat sekalipun, Rasulullah SAW menekankan pentingnya menjaga alam, sebagaimana sabdanya:
“Jika kiamat terjadi sementara di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit tanaman, maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat terjadi, hendaklah ia menanamnya.”
(HR. Ahmad)
Pesan ekoteologi Isra Mikraj menjadi sangat relevan di tengah krisis lingkungan global yang ditandai dengan perubahan iklim, kerusakan hutan, dan pencemaran alam. Umat Islam diajak untuk menjadikan Isra Mikraj sebagai momentum refleksi bahwa kedekatan dengan Allah SWT harus diwujudkan dalam perilaku ramah lingkungan dan tanggung jawab menjaga bumi.
Dengan demikian, Isra Mikraj bukan hanya peristiwa spiritual yang berorientasi pada hubungan vertikal dengan Allah SWT, tetapi juga mengandung pesan horizontal berupa kewajiban menjaga keseimbangan alam. Melalui pemahaman ekoteologi, umat Islam diharapkan mampu mewujudkan kehidupan yang berkelanjutan, penuh keberkahan, serta selaras dengan nilai-nilai Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Humas MAN 6 Jombang
